Senin, 02 Februari 2009

Iklan Politik

Jelang Pemilihan Umum pada April mendatang, media massa di Indonesia "banjir" iklan. Ya..iklan yang menampilkan para calon anggota legislatif (caleg). Beriklan sangat penting bagi para caleg ini. Sebab, sebagian besar mereka sadar kalau mereka belum terlalu dikenal masyarakat, yang dalam Pemilu menjadi penentu, apakah para caleg ini berhasil duduk sebagai wakil di lembaga legislatif atau tidak.
Alhasil, para caleg ini mencoba berbagai cara, mulai dari membuat baliho besar yang dipajang di titik-titik strategis, leaflet atau sekadar stiker untuk dibagi-bagikan ke masyarakat selaku konsituten. Puncaknya, para caleg ini mengiklankan diri berikut visi dan misinya bila terpilih sebagai wakil rakyat di media massa.
Dalam suatu pertemuan di Jakarta, Bang Akbar Tanjung menjelaskan, alasan media massa menjadi pilihan para caleg untuk memperkenalkan diri, salah satunya karena distribusi media ini cukup rata penyebarannya, serta mengena ke segala kalangan, mulai dari pedagang, pegawai negeri serta pegawai swasta. Dengan demikian, target caleg untuk memperkenalkan diri di mata masyarakat semakin gampang.
Selanjutnya, dengan iklan yang hampir terus menerus bahkan terbit setiap hari, para caleg berharap mampu memengaruhi opini masyarakat agar memiliki mereka pada Pemilu mendatang. Sayang, dengan cara ini, konstituen tidak paham betul calon yang akan mereka pilih. Apalagi, iklan dipajang sesuai keinginan si pemesan. Sangat sedikit kebenaran atau informasi yang bisa digali dari iklan tersebut.
Dan, bukan tidak mungkin, iklan ini malah dijadikan alat untuk menyerang calon-calon lainnya. Coba kita cermati iklannya Partai Demokrat yang "memuja" keberhasilan pemerintah di bawah pimpinan Presiden SBY. Di lain pihak, iklan PDIP yang kembali menjagokan Megawati sebagai calon presiden, malah mengkritik kinerja pemerintah selama lima tahun terakhir, tentu disertai dengan berbagai data dan dalil-dalil.
Masyarakat atau konsituten tentu bingung, mana yang harus dipercayai. Setiap caleg mempromosikan diri sebagai yang terbaik dan layak dipilih. Mereka semua berjanji akan mewakili aspirasi masyarakat seandainya terpilih nanti. Mana calon yang buruk dan busuk? Tentu sangat sulit mendeteksinya.
Semoga, negeri ini tidak kembali salah memilih wakil di legislasi dan pemimpin untuk lima tahun mendatang. Amieen.

Jayalah Indonesia

Tidak ada komentar: