Setelah sukses menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 2005 lalu, kini Sumatera Selatan (Sumsel) kembali dihadapkan pada even yang dikenal dengan pesta demokrasi. Tak tanggung-tanggung, sebanyak delapan kabupaten/kota termasuk provinsi akan melaksanakan pilkada. Sebut sajaPagaralam, Prabumulih, Muaraenim, Palembang, Banyuasin, Empat Lawang, Lahat dan Provinsi Sumsel. Terakhir, mungkin Kabupaten OKI.
Sejumlah pilkada kabupaten/kota telah berlangsung. Hampir semuanya dimenangkan calon incumbent. Lihat saja, Pagaralam dengan Djazuli Kuris, Prabumulih ada Rachman Djalili. Begitu pula sebelumnya, Musi Banyuasing tetap dengan Alex Noerdin. Malah, pada 2005 lalu, incumbent juga berjaya, seperti Eddy Yusuf di OKU.
Namun, dari semua pilkada-pilkada ini, pilkada Gubernur Sumsel saya pikir sangat menarik untuk diperbincangkan. Sebab, sejak jauh hari, dua tokoh Syahrial Oesman dan Alex Noerdin sudah menabuh genderang perang lewat media massa. Masing-masing memiliki halaman khusus di setiap koran daerah. Bahkan, Alex Noerdin dengan bangganya menerbitkan sendiri media massa yang diberi nama Berita Pagi.
Kini, beberapa bulan menjelang pelaksanaan pilkada, head to head antar keduanya makin kentara. Poster, spanduk, baleho dan berbagai cara berkomunikasi lain, mereka terapkan untuk menarik minat masyarakat. Pertemuan dua tokoh yang mengklaim sama-sama anak pejuang ini cukup sengit. Gesekan sudah mulai terasa, bahkan di level masyarakat terendah. Namun, kita harap masalah ini tidak sampai pada tindakan anarkis yang ujungnya bukan membawa Sumsel ke arah yang lebih baik, tapi memicu pertikaian horizontal antar masyarakat.
Terakhir, Alex Noerdin diguncang isu hebat tentang hubungan dengan seseorang perempuan. Malah, video yang mendiskreditkan calon dari partai beringin itu beredar luas di dunia maya. Para pendukungnya cukup meradang dan mengancam akan menuntut semua pihak yang terkait perbuatan yang mengarah pada pencemaran nama baik tersebut. (tapi, kira-kira siapa yang akan dituntut ya..)
Pilkada, bertujuan mencari pemimpin untuk lima tahun ke depan. Rakyat diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menentukan pilihan masing-masing. Dan, saya pikir, masyarakat Sumsel sudah sedikit banyak mengetahui sepak terjang kedua figur ini, belum termasuk Syahrial BP Peliung yang katanya maju melalui jalur independen.
Siapa yang tidak tahu dengan Syahrial Oesman. Dia berhasil menelikung Rosihan Arsyad dalam pemilihan di DPRD Sumsel. Dia melanjutkan program Sumsel sebagai tuan rumah PON XVI dan cukup berhasil dalam pelaksanaannya. Meski Kepala Dinas Perhubungan kala itu terpaksa jadi tumbal dan mendekam di hotel prodeo karena terlibat skandal korupsi pengadaan alat transportasi PON.
Syahrial juga berhasil memikat Presiden RI SBY untuk bolak balik ke Sumsel. Entah untuk panen raya, meresmikan ini, meresmikan itu. Bahkan mencanangkan Sumsel sebagai lumbung pangan dan lumbung energi nasional. Tapi, memegang status sebagai Lumbung Energi Nasional, tidak cukup meyakinkan Sumsel mendapatkan proyek listrik dari pemerintah pusat. Begitu pula dengan slogan lumbung pangan, di mana masyarakat yang hidup di lumbung pangan tetap kelaparan dan masih ada warga yang menderita gizi buruk.
Alex Noerdin, ehhm, sudah berpengalaman dalam pilkada langsung. Dia terpilih dengan jumlah suara cukup mayoritas dalam pilkada Muba. Mungkin, hal itu dapat dijadikan pelajaran untuk bertarung dalam pilkada Sumsel. Tinggal keberanian saja, apakah dia benar-benar siap fight melawan Syahrial Oesman. Dulu, Alex sedikit terlambat menyatakan siap maju. Mungkin saja, karena desakan sejumlah pihak, apalagi dirinya sudah berkampanye di mana-mana dan menutup kemungkinan kader partai beringin lain untuk maju, dia memantapkan diri maju dalam pilkada.
Dengan gembar-gembor berhasil "membangun" Muba, dia bertekad memajukan Sumsel. Tapi, coba ditilik lagi, apakah Muba benar-benar sudah maju saat ini. Saya serahkan dengan teman-teman. Tapi, saya sangat berharap teman-teman tidak melihat keberhasilan Muba ini hanya sebatas membaca koran di Sumsel atau mungkin koran nasional (maaf bukannya saja kurang percaya dengan penilaian media massa). Karena Alex Noerdin dipercaya bisa mengarahkan sesuatu sesuai kehendaknya, tak terkecuali media.
Alex Noerdin gitchu lho... (tak percaya) tanya saja sama bos koran di Palembang, he...he...
Edisi ini saya cukupkan di sini. Ke depan, saya janji berbagi cerita dengan teman-teman lain seputar pilkada Sumsel ini sampai pencoblosan dilaksanakan.