Jumat, 22 September 2017

#narasimediadamai #lawanterorisme #kamitidaktakut #tolakpahamradikal


Senin, 02 Februari 2009

Iklan Politik

Jelang Pemilihan Umum pada April mendatang, media massa di Indonesia "banjir" iklan. Ya..iklan yang menampilkan para calon anggota legislatif (caleg). Beriklan sangat penting bagi para caleg ini. Sebab, sebagian besar mereka sadar kalau mereka belum terlalu dikenal masyarakat, yang dalam Pemilu menjadi penentu, apakah para caleg ini berhasil duduk sebagai wakil di lembaga legislatif atau tidak.
Alhasil, para caleg ini mencoba berbagai cara, mulai dari membuat baliho besar yang dipajang di titik-titik strategis, leaflet atau sekadar stiker untuk dibagi-bagikan ke masyarakat selaku konsituten. Puncaknya, para caleg ini mengiklankan diri berikut visi dan misinya bila terpilih sebagai wakil rakyat di media massa.
Dalam suatu pertemuan di Jakarta, Bang Akbar Tanjung menjelaskan, alasan media massa menjadi pilihan para caleg untuk memperkenalkan diri, salah satunya karena distribusi media ini cukup rata penyebarannya, serta mengena ke segala kalangan, mulai dari pedagang, pegawai negeri serta pegawai swasta. Dengan demikian, target caleg untuk memperkenalkan diri di mata masyarakat semakin gampang.
Selanjutnya, dengan iklan yang hampir terus menerus bahkan terbit setiap hari, para caleg berharap mampu memengaruhi opini masyarakat agar memiliki mereka pada Pemilu mendatang. Sayang, dengan cara ini, konstituen tidak paham betul calon yang akan mereka pilih. Apalagi, iklan dipajang sesuai keinginan si pemesan. Sangat sedikit kebenaran atau informasi yang bisa digali dari iklan tersebut.
Dan, bukan tidak mungkin, iklan ini malah dijadikan alat untuk menyerang calon-calon lainnya. Coba kita cermati iklannya Partai Demokrat yang "memuja" keberhasilan pemerintah di bawah pimpinan Presiden SBY. Di lain pihak, iklan PDIP yang kembali menjagokan Megawati sebagai calon presiden, malah mengkritik kinerja pemerintah selama lima tahun terakhir, tentu disertai dengan berbagai data dan dalil-dalil.
Masyarakat atau konsituten tentu bingung, mana yang harus dipercayai. Setiap caleg mempromosikan diri sebagai yang terbaik dan layak dipilih. Mereka semua berjanji akan mewakili aspirasi masyarakat seandainya terpilih nanti. Mana calon yang buruk dan busuk? Tentu sangat sulit mendeteksinya.
Semoga, negeri ini tidak kembali salah memilih wakil di legislasi dan pemimpin untuk lima tahun mendatang. Amieen.

Jayalah Indonesia

Sabtu, 06 September 2008

Siapa Menang (Pilgub Sumsel)?

Pencoblosan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) berlangsung lancar, 4 September lalu. Tidak ada kendala berarti, seperti suara suara yang kurang atau masalah logistik lainnya.

Tingkat partisipasi pemilih, seperti yang diprediksi memang tidak signifikan. Setidaknya, kurang lebih 30% dari jumlah pemilih 5 juta orang, pada hari itu tidak menggunakan hak politiknya. Banyak sebab, mungkin karena faktor Ramadan, atau masyarakat sudah sinis dengan dua pasangan calon yang akan dipilih.

Ya, pada Pilgub Sumsel, kedua pasangan calon yang maju yakni Syahrial Oesman (incumbent) berpasangan dengan presenter kondang Helmy Yahya (SOHE). Keduanya mendapat nomor urut 2. Sementara pesaingnya yakni mantan Bupati Musi Banyuasin Alex Noerdin berpasangan dengan mantan Bupati OKU Eddy Yusuf (ALDY) dengan nomor urut 1.

Meski berlangsung lancar, tapi hasil penghitungan cepat (quick count) sejumlah lembaga survei memberikan hasil berbeda. Dua LSI, pimpinan Danny JA dan Saiful Mujani sama-sama memenangkan ALDY sementara Puskabtis menyatakan SOHE sebagai pemenang.

Tetapi, tetap ada persamaan hasil perhitungan antara dua metode survei tersebut, yakni selisih perolehan suara kedua pasangan tidak terpaut terlalu jauh, kurang lebih 2%. Sementara margin eror diperkirakan mencapai 1-3%. Artinya, hasil quick count ini belum patut dijadikan dasar.

Alhasil, masyarakat termasuk para pendukung kedua calon diminta tenang sambil menunggu keputusan dari KPUD Sumsel pada 14 September. Akan tetapi celakanya, sehari pascapencoblosan, dua kubu saling mengklaim sebagai pemenang. Bahkan, ada pihak yang menggelar pawai kemenangan.

Pada kondisi seperti ini, keputusan akhir berada di tangan KPUD. Sedikit saja terjadi kesalahan, bukan tidak mungkin, Pilgub Sumsel ini akan sama nasibnya dengan Pilkada Maluku Utara yang dibiarkan dalam konflik hingga berlarut-larut.

Karena itu dibutuhkan kedewasaan berpikir semua pihak, mulai kedua pasangan calon, tim pendukungnya, anggota KPUD dan masyarakat. Kepada para calon pemimpin ini diharap tidak terlalu memaksakan kehendak dan tetap mematuhi komitmen untuk siap kalah-siap menang.

Selain itu, mereka diharap dapat mengendalikan pendukung masing-masing dan menerima apapun keputusan KPUD kelak. Jangan sampai, bila dinyatakan kalah, akan kalap dan emosi sambil menggerakkan massa untuk melakukan perbuatan anarkis.

Hal itu sangat mungkin terjadi, mengingat modal (uang) yang telah dikeluarkan kedua pasangan calon dalam pertaruhan ini cukup tinggi. Karena itu, tidak mudah bagi mereka untuk menerima kekalahan. Dan, sudah menjadi tugas pihak keamanan, baik Polri maupun TNI untuk mengamankan situasi di Sumsel.

Khusus bagi anggota KPUD. Kita hanya berharap mereka berlaku fair dengan menghitung perolehan suara sesuai kenyataan, tanpa ada “permainan” apalagi menjalankan “pesanan” salah satu calon. Tapi, kalau hal itu terjadi, maka petaka bagi Sumsel, karena konflik berkepanjangan akan sangat mungkin terjadi.

Pengawasan sangat mutlak dilakukan terhadap hasil penghitungan suara mulai dari tingkat TPS, PPS, PPK, KPUD kabupaten/kota hingga pleno KPUD Provinsi Sumsel. Jika sedikit saja ada celah, dikhawatirkan akan dimanfaatkan oknum tertentu untuk mencari keuntungan dengan memenangkan salah satu pasangan calon.(**)

Senin, 11 Agustus 2008

Susahnya Bahasa Inggris

Bahasa Inggris tampaknya sudah menjadi keharusan bagi sebagian warga Indonesia. Pameo menyebutkan, siapa yang mahir berbahasa Indonesia, niscaya orang itu lebih mudah mencari pekerjaan. Apa benar?

Bagi sebagian orang mungkin iya, apalagi banyak perusahaan asing yang kini membuka unit usahanya di Indonesia, bahkan hingga ke pelosok daerah. Penguasaan asing (Inggris) pun menjadi syarat wajib bagi warga Indonesia yang ingin bergabung dengan perusahaan tersebut. Logikanya, biar komunikasi bisa nyambung dan perusahaan tak perlu membuang biaya hanya untuk seorang penerjemah.

Selain perusahaan asing, instansi pemerintah seperti Departemen Luar Negeri, dalam rekruitmen pegawai, menempatkan penguasaan bahasa Indonesia dan Inggris dalam bobot penilaian yang sama. Dan, bila ada tambahan satu bahasa asing lain, hal itu akan menjadi nilai plus bagi sang pelamar.

Bagi saya, mempelajari bahasa Inggris sudah dilakukan sejak masih di sekolah dasar. Saya sempat berganti-ganti tempat kursus. Bahkan untuk satu tempat kursus, saya bisa keluar masuk hingga tiga kali. Terakhir, saya menyelesaikan kursus tingkat advance.

Selama sekolah hingga kuliah, bahasa Inggris yang saya pelajari itu memang berguna. Tak heran, bila mata pelajaran bahasa Inggris saya selalu mendapatkan nilai tinggi. Malah, saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), saya sangat mengandalkan bahasa Inggris ditambah bahasa Indonesia, sementara soal-soal matematika, sengaja tidak saya jawab, termasuk soal-soal IPS terpadu.

Sebab, menurut hitung-hitungan saya ketika itu, cukup menjawab dengan benar seluruh pertanyaan bahasa Inggris plus setengah jumlah soal bahasa Indonesia, poin yang saya dapat, sudah diterima di perguruan tinggi yang diinginkan.



Timbul Rasa Malu

Permasalahannya, sampai saat ini, saya tak kunjung mahir melafaskan bahasa Inggris. Saya sempat malu, karena di tempat saya bekerja saat ini, sebagian besar mahir melafaskan bahasa Inggris dengan lancar, meski dengan dialek berbeda sesuai asal daerahnya.

Rasa malu makin menjadi setelah saya berpacaran dengan seorang lulusan sastra Inggris. Karena dalam benak saya, orang-orang sastra Inggris otomatis mahir berbahasa Inggris. Sementara saya, untuk menonton DVD atau VCD tanpa bantuan teks Indonesia saja sudah susah.

Suatu ketika, saya sempat membahas bidang studi yang digeluti pacarku itu. Ternyata, dia memberikan penjelasan di luar perkiraanku tentang jurusannya itu. Dari penjelasannya, lulusan sastra Inggris itu belum tentu memahami betul bahasa Inggris. Jadi, jurusannya hanya mempelajari sastra yang ada di Inggris.

Sehingga penguasaan bahasa Inggris yang mereka kuasai hanya yang umum-umum saja. Sementara yang mempelajari penuh bahasa Inggris adalah mahasiswa jurusan FKIP Bahasa Inggris. Kami sempat ngobrol banyak tentang bahasa Inggris ini. Bahkan, saya sempat melontarkan pertanyaan, kira-kira apa fungsi jurusan sastra Inggris ini dalam membangun kehidupan, bangsa, negara dan agama? (he..he..)

Pacarku itu sempat mengakui, tidak banyak orang yang tahu apa yang sebetulnya dipelajari di jurusan sastra Inggris. Karena sosialisasi mengenai masalah ini juga sangat jarang. Sementara jurusan sastra Inggris juga bukan jurusan favorit, layaknya ekonomi, kedokteran, atau hukum.

Dia juga tidak menyalahkan bila saya menyebut dia mahir berbahasa Inggris karena jurusannya sastra Inggris. Toh, dia memang menguasai dan mampu berbahasa Inggris, dan bukan seperti saya yang hanya bisa menjawab soal-soal bahasa Inggris pada saat ujian. Tetapi ketika harus melafaskan dengan lawan bicara, sangat jarang bahkan tidak berani melakukannya.

Ahhh... susahnya berbahasa Inggris??????

Kamis, 24 April 2008

pilkada sumsel (1)

Setelah sukses menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 2005 lalu, kini Sumatera Selatan (Sumsel) kembali dihadapkan pada even yang dikenal dengan pesta demokrasi. Tak tanggung-tanggung, sebanyak delapan kabupaten/kota termasuk provinsi akan melaksanakan pilkada. Sebut sajaPagaralam, Prabumulih, Muaraenim, Palembang, Banyuasin, Empat Lawang, Lahat dan Provinsi Sumsel. Terakhir, mungkin Kabupaten OKI.
Sejumlah pilkada kabupaten/kota telah berlangsung. Hampir semuanya dimenangkan calon incumbent. Lihat saja, Pagaralam dengan Djazuli Kuris, Prabumulih ada Rachman Djalili. Begitu pula sebelumnya, Musi Banyuasing tetap dengan Alex Noerdin. Malah, pada 2005 lalu, incumbent juga berjaya, seperti Eddy Yusuf di OKU.
Namun, dari semua pilkada-pilkada ini, pilkada Gubernur Sumsel saya pikir sangat menarik untuk diperbincangkan. Sebab, sejak jauh hari, dua tokoh Syahrial Oesman dan Alex Noerdin sudah menabuh genderang perang lewat media massa. Masing-masing memiliki halaman khusus di setiap koran daerah. Bahkan, Alex Noerdin dengan bangganya menerbitkan sendiri media massa yang diberi nama Berita Pagi.
Kini, beberapa bulan menjelang pelaksanaan pilkada, head to head antar keduanya makin kentara. Poster, spanduk, baleho dan berbagai cara berkomunikasi lain, mereka terapkan untuk menarik minat masyarakat. Pertemuan dua tokoh yang mengklaim sama-sama anak pejuang ini cukup sengit. Gesekan sudah mulai terasa, bahkan di level masyarakat terendah. Namun, kita harap masalah ini tidak sampai pada tindakan anarkis yang ujungnya bukan membawa Sumsel ke arah yang lebih baik, tapi memicu pertikaian horizontal antar masyarakat.
Terakhir, Alex Noerdin diguncang isu hebat tentang hubungan dengan seseorang perempuan. Malah, video yang mendiskreditkan calon dari partai beringin itu beredar luas di dunia maya. Para pendukungnya cukup meradang dan mengancam akan menuntut semua pihak yang terkait perbuatan yang mengarah pada pencemaran nama baik tersebut. (tapi, kira-kira siapa yang akan dituntut ya..)
Pilkada, bertujuan mencari pemimpin untuk lima tahun ke depan. Rakyat diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menentukan pilihan masing-masing. Dan, saya pikir, masyarakat Sumsel sudah sedikit banyak mengetahui sepak terjang kedua figur ini, belum termasuk Syahrial BP Peliung yang katanya maju melalui jalur independen.
Siapa yang tidak tahu dengan Syahrial Oesman. Dia berhasil menelikung Rosihan Arsyad dalam pemilihan di DPRD Sumsel. Dia melanjutkan program Sumsel sebagai tuan rumah PON XVI dan cukup berhasil dalam pelaksanaannya. Meski Kepala Dinas Perhubungan kala itu terpaksa jadi tumbal dan mendekam di hotel prodeo karena terlibat skandal korupsi pengadaan alat transportasi PON.
Syahrial juga berhasil memikat Presiden RI SBY untuk bolak balik ke Sumsel. Entah untuk panen raya, meresmikan ini, meresmikan itu. Bahkan mencanangkan Sumsel sebagai lumbung pangan dan lumbung energi nasional. Tapi, memegang status sebagai Lumbung Energi Nasional, tidak cukup meyakinkan Sumsel mendapatkan proyek listrik dari pemerintah pusat. Begitu pula dengan slogan lumbung pangan, di mana masyarakat yang hidup di lumbung pangan tetap kelaparan dan masih ada warga yang menderita gizi buruk.
Alex Noerdin, ehhm, sudah berpengalaman dalam pilkada langsung. Dia terpilih dengan jumlah suara cukup mayoritas dalam pilkada Muba. Mungkin, hal itu dapat dijadikan pelajaran untuk bertarung dalam pilkada Sumsel. Tinggal keberanian saja, apakah dia benar-benar siap fight melawan Syahrial Oesman. Dulu, Alex sedikit terlambat menyatakan siap maju. Mungkin saja, karena desakan sejumlah pihak, apalagi dirinya sudah berkampanye di mana-mana dan menutup kemungkinan kader partai beringin lain untuk maju, dia memantapkan diri maju dalam pilkada.
Dengan gembar-gembor berhasil "membangun" Muba, dia bertekad memajukan Sumsel. Tapi, coba ditilik lagi, apakah Muba benar-benar sudah maju saat ini. Saya serahkan dengan teman-teman. Tapi, saya sangat berharap teman-teman tidak melihat keberhasilan Muba ini hanya sebatas membaca koran di Sumsel atau mungkin koran nasional (maaf bukannya saja kurang percaya dengan penilaian media massa). Karena Alex Noerdin dipercaya bisa mengarahkan sesuatu sesuai kehendaknya, tak terkecuali media.
Alex Noerdin gitchu lho... (tak percaya) tanya saja sama bos koran di Palembang, he...he...
Edisi ini saya cukupkan di sini. Ke depan, saya janji berbagi cerita dengan teman-teman lain seputar pilkada Sumsel ini sampai pencoblosan dilaksanakan.

Minggu, 09 Maret 2008

moto gp dan indonesia

Senin diri hari, musim Moto GP kembali dimulai. Berarti jadwal menonton saya bertambah. Apalagi, seri tahun ini banyak muka baru yang bermunculan. Saya sangat berharap akan tumbuh pembalap-pembalap seperti Casey Stoner yang mampu menjadi rival berat bagi juara dunia lima kali Rossi. Hadirnya pembalap-pembalap baru ini (Lorenzo dan Davioso) saya pikir akan menambah gerak jantung kita berdetak cukup cepat saat menyaksikan adu jet darat roda dua tersebut.
Tapi, ada yang lebih baru man. Di kelas 250 cc yang biasanya digeber sebelum moto GP, ada orang Jawa (maksudnya Indonesia) ikut balapan. Dan, di motornya ada bendera negara kita tercinta. Sungguh pemandangan baru. Memang sebelumnya, Doni (nama pembalap itu) sempat beberapa kali tampil di ajang tersebut. Tapi ya, cara orang baru bos, cuma numpang lewat aja. Itu pun nggak sampe race selesai (mungkin cape kali yah).
Tahun ini, teman kita itu akan menjadi pembalap reguler. Yang saya tahu sih, itu berarti the man from Indonesia itu akan terus membalap di setiap seri 250 cc. Kalau saya baca di tulisan media online, katanya, jangan berharap banyak dulu kalau Doni bisa memberikan prestasi (juara). Kata media itu, nasionalisme justru yang harus dikedepankan. Karena ini sejarah bagi Indonesia menempatkan pembalapnya dalam ajang yang dulu dominan diikuti jeme-jeme dari Spanyol dan Italia.
Kalau saya sih, itu bener juga. Juara nanti aja deh, kan Indonesia memang lagi paceklik juara. Doni keliling aja di lap itu bawa bendera merah putih. Biar orang-orang itu tahu, Indonesia bisa juga jadi pembalap. Meski untuk tahap awal, ya, cukup muter-muter dulu di lintasan, ngabisin bensin sambil ikut memanaskan iklim, he..he..he..